Minggu, 05 Mei 2013

Wong Jawa tur Ra Njawani Iki Piye?


Pengeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni. Pengeran nganakake banyu, manggon ing banyu ora teles dening banyu.  (Tuhan mencitakan api, berada dalam api namun tidak terbakar. Tuhan menciptakan air, bertempat di air tetapi tidak basah) nah, kira-kira dimana Tuhan, bagaimana dia dapat menciptakan segala sesuatu namun eksistensinya jauh seolah tanpa batas namun sangat dekat namun tidak bersentuhan. Bingung ya, namun orang Jawa memiliki falsafah Ngono yo ngono ning ora ngono (begitu ya begitu namun tidak seperti itu). Slogan ini semakin menambah bingung karena kira-kira seperti itu namun bukan seperti itu lantas bagaimana? Inilah kekayaan pemikiran masyarakat Jawa yang begitu luar biasa. Mereka hidup dari kenyataan bukan sekadar teori yang impactnya kadang kurang sama sekali.

Masyarakat Jawa yang sederhana memandang semua hal dengan kesahajaan namun memiliki karakter yang luar biasa. Jika dilihat sepintas memang terkesan nggampangke tetapi jika dipikir lebih lanjut itulah kearifan yang sebenarnya, yang mampu meredam segala perbedaan keyakinan dan kepercayaan yang ada. Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu menguasai segala yang ada namun tidak menggambarkan seperti apa atau bagaimananya. Kita mesti belajar lebih banyak tentang kearifan orang Jawa terutama etnis Jawa sendiri, masak Wong Jawa tur Ra Njawani Iki Piye? (orang jawa tetapi tidak mengerti akan jawa, ini bagaimana?)  Tuhan adalah sesuatu yang berada di atas manusia namun Tuhan membuat dirinya dapat terjangkau oleh manusia. Manusia yang mana dulu karena tidak semua manusia dapat menerima dan menemukan kebenaran yang sejati. Nafsu angkara antara harta, takhta dan wanita yang menjadikan penghalang bagi manusia dalam menemukan kesejatian yang sebenarnya. Manusia yang sejati adalah manusia yang dapat menjaga serta mengekang segala keinginannya di luar keinginan yang sewajarnya. Nah, bagaimana yang sewajarnya itu? yang sewajarnya dimana itu adalah kodrat manusia yang semestinya dan tidak berlebihan. Jangan sampai karena nafsu adalah kodrat manusia namun nafsu tersebut malah menguasai dirinya. Nafsu atau keinginan sebenarnya tidak untuk dibunuh namun dialihkan atau dikelola dengan baik sehingga mewujudkan nilai-nilai yang luhur bukan mudhorot yang tidak ada artinya sama sekali.